Tradisi Kupat sewu

Tradisi (Kupat sewu)

3 Agustus 2018.
Tempat dusun: Gedongan
Kel :Ngemplak
Kec: Kandangan
KAB: Temanggung

Acara di mulai Jam 7 pagi – sampai selesai
Acara di buka dengan arak-arakan, Star Dari dusun Gedongan Finis Di pusat mata air (Jaro). dengan pakaian adat jawa, di iringi ( drum band/ marcing band) dari kledung, di lanjut pagelaran wayang di mulai setelah sholat jum’at, jam 2 siang – 6 sore
Dilanjutkan pagelaran wayang semalam suntuk dengan kidalang (Legowo) dari Kranggan.

 

( Warga Dusun Gedongan Desa Ngemplak Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung memiliki tradisi unik yang masih dilestarikan sampai sekarang, Kupat Sewu.

Digelar di sisi Sungai Dawuhan Lenging, tradisi tersebut untuk memperingati peristiwa penting awal awal terbentuknya pemukiman ratusan tahun silam atau bubak alas dalam istilah jawa.

Sesepuh desa setempat, Hadi, mengisahkan, pada mulanya hidup sepasang suami istri bernama Kyai dan Nyai Lenging. Saat itu keduanya berniat hendak membuka pemukiman baru. Namun, sebelum masyarakat lain turut bermukim, mereka menghendaki adanya saluran air guna mencukupi kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu.

Tak berselang lama, pembuatan saluran dimulai, tepat pada hari Jumat Kliwon. Mereka berkehendak, dalam waktu seribu hari saluran tersebut harus selesai dibuat, dengan syarat laku puasa dengan hanya menyantap satu ketupat tiap harinya.

Namun, proses pembuatan sungai tersebut ternyata tak sejalan dengan apa yang semula diharapkan. Meski sudah memasuki hari ke 999, namun baru selesai separuh perjalanan. Lantaran ingin menyelesaikan pembangunan tepat waktu, akhirnya Nyai Lenging mendatangi lokasi, tepat di hari terakhir, sekitar pukul 9.00 pagi kala itu.

Sosok yang sakti tersebut langsung menyapukan selendang yang ia bawa di atas hamparan tanah yang belum sempat dijadikan sungai. Ajaibnya, bekas sapuan selendang tersebut membentuk sebuah cekungan panjang hanya dalam waktu sekejab.

Menurutnya, guna mengenang proses tersebut, sampai saat ini warga setempat masih terus memperingatinya setiap tahun sekali.

Tradisi tersebut diselenggarakan secara meriah. Selain memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, para sesepuh lantas menyanyikan lagu Jawa, Lir-Ilir. Disusul kemudian dengan acara berebut gunungan ketupat dan tumpeng yang telah dipersiapkan.

Uniknya, warga yang hadir akan saling merebutkan seekor ayam yang sengaja dilepas, sembari menunggu cipratan air sungai percikan kaki dan dipercaya dapat membawa berkah tersendiri.

Prosesi kemudian ditutup dengan acara makan bersama di sepanjang aliran sungai. Menu utamanya tentu saja ketupat yang telah dibuat dan dibawa oleh masing-masing kepala keluarga.

Lebih jauh ia mengungkapkan, selain peringatan peristiwa sejarah berdirinya dusun, ritual ini juga digelar sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil pertanian di sana. )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *